Cerita & Kisah Nabi Muhammad (Bag 1)

Pengantar 

Bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir, sesudah beliau tidak ada Nabi dan Rasul lagi.

Bahwa jika Nabi-Nabi yang lain hanya diutus untuk satu kaumnya saja. Maka Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia.

Bahwa Nabi Muhammad diutus ke tengah-tengah manusia di saat manusia berada dalam kesesatan dan memuncaknya kerusakan akhlak manusia. Maka Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kelahiran Nabi Muhammad S.A.W

Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana, di kota Mekah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim, bapaknya yang bemama Abdullah meninggal ± 7bulan sebelum dia lahir. Kehadiran bayi itu disambut oleh kakeknya Abdul Muththalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawanya ke kaki ka’bah. Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut penanggalan para ahli, kelahiran Muhammad itu pada tanggai 12 Rabiulawal tahun Gajah atau tanggai 20 April tahun 571 M.

Adapun sebab dinamakan tahun kelahiran Nabi itu dengan tahun Gajah, karena pada tahun itu, kota Mekah diserang oleh suatu pasukan tentara orang Nasrani yang kuat di bawah pimpinan Abrahah, gubernur dari kerajaan Nasrani Abessinia, yang memerintah di Yaman, dan mereka bermaksud menghancurkan Ka’bah. Pada waktu itu Abrahah berkendaraan gajah. Belum lagi maksud mereka tercapai, mereka sudah dihancurkan oleh Allah s.w.t. dengan mengirimkan burung ababil. Oleh karena pasukan itu mempergunakan gajah, maka orang Arab menamakan bala tentara itu pasukan bergajah, sedang tahun terjadinya peristiwa ini disebut Tahun Gajah.

Nabi Muhammad s.a.w. adalah keturunan dari Qushai pahlawan suku Quraisy yang telah berhasil menggulingkan kekuasaan Khuza’ah atas kota Mekah. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdulmanaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah dari golongan Arab Banu Ismail. Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.

Sudah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab kota Mekah, terutama pada orang-orang yang tergolong bangsawan, menyusukan dan menitipkan bayi-bayi mereka kepada wanita badiyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat menghirup hawa yang bersih, terhindar dari penyakit-penyakit kota dan supaya bayi-bayi itu dapat berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih. Demikianlah halnya Nabi Muhammad s.a.w. Beliau diserahkan oleh ibunya kepada seorang perempuan yang baik Halimah Sa’diyah dan Bani Sa’ad kabilah Hawazin, tempatnya tidak jauh dari kota Mekah. Di perkampungan Bani Sa’ad inilah Nabi Muhammad s.a.w. diasuh dan dibesarkan sampai berusia lima tahun.

Kematian Ibu dan Kakek

Sesudah berusia lima tahun, Muhammad s.a.w. diantarkannya ke Mekah kembali kepada ibunya, Siti Aminah. Setahun kemudian yaitu sesudah ia berusia kira-kira enam tahun, beliau dibawa oleh ibunya ke Madinah, bersama-sama dengan Ummu Aiman, sahaya Peninggalan ayahnya. Maksud membawa Nabi ke Madinah, pertama untuk memperkenalkan Ia kepada keluarga neneknya Bani Najjar dan kedua untuk menziarahi makam ayahnya. Mereka tinggal di situ kira-kira satu bulan, kemudian pulang kembali ke Mekah. Dalam perjalanan mereka pulang, pada suatu tempat, Abwa’ namanya, tiba-tiba Aminah jatuh sakit sehingga meninggal dan dimakamkan di situ juga. (Abwa ialah nama sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah, kira-kira sejauh 23 mil di sebelah selatan kota Madinah). Betapa sedih hati Muhammad, dari kecil tak mengenal ayahnya kini harus pula berpisah dengan ibunya.

Setelah selesai pemakaman ibundanya, Nabi Muhammad s.a.w. segera meninggalkan kampung Abwa’ itu kembali ke Mekah dan tinggal bersama-sama dengan neneknya Abdul Muththalib.

Di sinilah Nabi Muhammad s.a.w. diasuh sendiri oleh neneknya dengan penuh kecintaan. Usia Abdul Muththalib pada waktu itu mendekati 80 tahun.

Disebabkan kasih sayang neneknya, Abdul Muththalib, Muhammad s.a.w. dapat hiburan dan dapat melupakan kemalangan nasibnya karena kematian ibunya. Tetapi, keadaan ini tidak lama berjalan, sebab baru saja berselang dua tahun ia merasa terhibur di bawah asuhan neneknya, orang tua yang baik hati itu meninggal pula, dalam usia delapan puluh tahun. Muhammad s.a.w. ketika itu baru berusia delapan tahun.

Sesuai dengan wasiat Abdul Muththalib, maka Nabi Muhammad s.a.w. Diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Kesungguhan dia mengasuh Nabi serta kasih sayang yang dicurahkan kepada keponakannya ini tidaklah kurang dari apa yang diberikannya kepada anaknya sendiri. Selama dalam asuhan nenek dan paman, Nabi Muhammad menunjukkan sikap yang terpuji dan selalu membantu meringankan kehidupan mereka.

Pengalaman penting Nabi Muhammad s.a.w.

Ketika berumur 12 tahun, Nabi Muhammad s.a.w. mengikuti pamannya Abu Thalib membawa barang dagangan ke Syam. Sebelum mencapai kota Syam, baru sampai ke Bushra, bertemulah kafilah Abu Thalib dengan seorang pendeta Nasrani, “Buhaira” namanya. Pendeta itu melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad s.a.w. Maka dinasihatilah Abu Thalib agar segera membawa keponakannya itu pulang ke Mekah, sebab dia khawatir kalau Muhammad s.a.w. ditemukan oleh orang Yahudi yang pasti akan menganiayanya (dalam riwayat lain kaum Yahudi akan membunuhnya) Abu Thalib segera menyelesaikan dagangannya dan kembali ke Mekah.

Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana biasanya pada masa kanak-kanak itu, dia kembali ke pekerjaannya menggembala kambing, kambing keluarga dan kambing penduduk Mekah yang lain yang dipercayakan kepadanya. Pekerjaan menggembala kambing ini membuahkan didikan yang amat baik pada diri Nabi, karena pekerjaan ini memerlukan keuletan, kesabaran dan ketenangan serta ketrampilan dalam tindakan.

Di waktu Nabi Muhammad s.a.w. berumur ± 15 tahun terjadilah peristiwa yang bersejarah bagi penduduk Mekah, yaitu kejadian peperangan antara suku Quraisy dan Kinanah di satu pihak, dengan suku Qais ‘Ailan di lain pihak. Nabi Muhammad s.a.w. ikut aktif dalam peperangan ini memberikan bantuan kepada paman-pamannya menyediakan keperluan peperangan.

Peperangan ini terjadi di daerah suci pada bulan-bulan suci pula yaitu padabulan Zulqaedah. Menurut pandangan bangsa Arab -peristiwa itu adalah pelanggaran terhadap kesucian, karena melanggar kesucian bulan Zulqaedah, sebenarnya dilarang berkelahi, berperang menumpahkan darah. Oleh karena demikian, perang tersebut dinamakan Harbul Fijar yang artinya perang yang memecahkan kesucian.

Meningkat masa dewasa, Nabi Muhammad s.a.w. mulai berusaha sendiri dalam penghidupannya. Karena dia terkenal orang yang jujur, maka seorang janda kaya bernama Siti Khadijah mempercayai beliau untuk membawa barang dagangan ke Syam. Dalam perjalanan ke Syam ini, beliau ditemani oleh seorang Pembantu Siti Khadijah yang bernama Maisarah. Setelah selesai menjual belikan barang dagangan di Syam, dengan memperoleh laba yang tidak sedikit,merekapunkembali ke Mekah.

Sesudah Nabi Muhammad s.a.w. pulang dari perjalanan ke Syam itu, datanglah lamaran dari pihak Siti Khadijah kepada beliau, dan disampaikannya kepada pamannya. Setelah tercapai kata sepakat pernikahanpun dilangsungkan, pada waktu itu umur Nabi ±25 tahun sedang Siti Khadijah ±40 tahun.

Nama Nabi Muhammad s.a.w. tambah populer di kalangan penduduk Mekah, sesudah beliau mendamaikan pemuka-pemuka Quraisy dalam sengketa mereka memperbaharui bentuk Ka’bah.-Pada permulaannya mereka nampak bersatu dan bergotong-royong mengerjakan pembaharuan Ka’bah itu. Tetapi ketika sampai kepada peletakan Batu Hitam (Al Hajarul Aswad) ke tempat asalnya, terjadilah perselisihah sengit antara pemuka-pemuka Quraisy. Mereka masing-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tempat asalnya semula. Akhirnya disepakati yang akan menjadi hakim adalah orang yang pertama datang dan pada saat yang kritis ini, datanglah Muhammad s.a.w yang disambut dan segera disetujui mereka, maka dimintanyalah sehelai kain, lalu dihamparkannya dan Al-Hajarul Aswad diletakkannya di tengah-tengah kain itu. Kemudian disuruhnya tiap-tiap pemuka golongan Quraisy bersama-sama mengangkat tepi kain ke tempat asal Hajarul Aswad itu. Ketika sampai ke tempatnya, maka batu suci itu diletakkan dengan tangannya sendiri ke tempatnya. Dengan demikian selesailah persengketaan itu dengan membawa kepuasan pada masing-masing golongan. Pada waktu kejadian ini usia Nabi Sudah 35 tahun dan dikenal dengan nama “Al-Admin” yang sempat dipercaya.

Akhlak Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam perjalanan hidupnya sejak masih kanak-kanak hingga dewasa dan menjadi Rasul, beliau terkenal sebagai seorang yang jujur, berbudi Iuhur, dan mempunyai kepribadian yang tinggi. Tak ada sesuatu perbuatan dan tingkah lakunya yang tercela yang dapat dituduhkan kepadanya, berlainan sekali dengan tingkah laku dan perbuatan kebanyakan pemuda-pemuda dan penduduk kota Mekah pada umumnya yang gemar berfoya-foya dan bermabuk-mabukan. Karena demikian jujurnya dalam perkataan dan perbuatan, maka beliau diberi julukan “Al-Amin”, artinya: orang yatig dapat dipercayai.

Ahli sejarah menuturkan, bahwa Muhammad s.a.w. sejak kecil hingga dewasa tidak pernah menyembah berhala, dan tidak pernah pula makan daging hewan yang disembelih untuk korban berhala-berhala seperti lazimnya orang Arab jahiliyah pada waktu itu. Ia sangat benci kepada berhala itu dan menjauhkan diri dari keramaian dan upacara-upacara pemujaan kepada berhala itu.

Untuk menutupi keperluan hidupnya sehari-hari, dia berusaha sendiri mencari nafkah, karena orang tuanya tidak meninggalkan harta warisan yang cukup. Sesudah dia menikah dengan Siti Khadijah, dia berdagang bersama dengan istrinya dan kadang-kadang berserikat pula dengan orang lain.

Sebagai seorang manusia vang bakal menjadi pembimbing umat manusia, Muhammad s.a.w. memiliki bakat-bakat dan kemampuan jiwa besar kecerdasan pikirannya, ketajaman otaknya, kehalusan perasaannya, kekuatan ingatannya, kecepatan tanggapannya, kekerasan kemauannya. Segala pengalaman hidupnya, mendapat pengolahan yang sempurna dalam jiwanya. Dia mengetahui babak-babak sejarah negerinya, kesedihan masyarakat dan keruntuhan agama bangsanya. Pemandangan itu tidak dapat hilang dari pikirannya.

Ia mulai “menyiapkan dirinya” (bertahannuts) untuk mendapatkan pemusatan jiwa yang lebih sempurna. Untuk bertahannuts ini dipilihnya tempat di sebuah gua kecil yang bernama “Hira” yang terdapat pada sebuah bukit yang bernama “Jabal Nur” (Bukit Cahaya) yang terletak kira-kira dua atau tiga mil sebelah utara kota Mekah.

Lanjut Ke Cerita & Kisah Nabi Muhammad Bag. 2

 

Incoming search terms:

  • akhlak nabi muhammad saw dari masa kanak-kanak hingga dewasa
  • masa kanak-kanak rasulullah saw hingga berusia 12 tahun
  • cerita nabi mohama ad
  • kisah nabi muhammad saw dari kecil
  • kisah nabi muhammad saw diasuh oleh pamannya
  • masa kecil muhamad ngembala kambing
  • Pada waktu bayi nabi muhammad di asuh oleh?
  • umur 8tahun nabi muhammad diasuh oleh
  • umur nabi muhammad menggembala kambing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>